PENENTUAN MAHAR BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN MEMPELAI WANITA DI TINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (Studi Kasus di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya )

  • Sajeli Rais staidarularafah.ac.id

Abstrak

Di Aceh penetapan mahar berbeda-beda di setiap daerah. Sebagian besar mahar ditetapkan secara turun-temurun sehingga telah menjadi tradisi yang sulit digeser walapun zaman terus berkembang. Mahar di Aceh secara keseluruhan dalam bentuk emas yang disebut dengan manyam, (1 manyam sama dengan 3,3 gram emas), namun dengan kadar atau jumlah yang berbeda-beda di setiap daerah. Penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), penulis memperoleh informasi dari lapangan dengan mendatangi langsung lokasi penelitian di Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya. Penentuan Mahar dalam tradisi masyarakat Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya dilakukan dengan melihat tingkatan pendidikan mempelai wanita yang akan dinikahi. Karena kedudukan dan fungsi mahar dalam masyarakat Kecamatan Jaya merupakan suatu tradisi baru yang dapat memberikan kebanggaan kepada orang tua (wali), calon isteri dan melambangkan kesuksesan seorang wanita. Penentuan mahar berdasarkan tingkat pendidikan mempelai wanita dalam pandangan tokoh ulama Kecamatan Jaya Kabupaten Aceh Jaya merupakan sesuatu yang tidak baik untuk dipraktekkan karena tidak ada sumber maupun dalil yang kuat baik yang tertulis di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Pendidikan dapat dijadikan nilai lebih untuk wanita tetapi tidak lantas kemudian dijadikan sebagai patokan dalam menentukan maharnya. Hal ini juga dapat memicu kesenjangan dalam masyarakat yang mengakibatkan terjadinya pembedaan-pembedaan terhadap status wanita. Penentuan mahar atau jeulamei yang didasarkan pada tingkat pendidikan mempelai wanita di Kecamatan Jaya tersebut, menimbulkan dua akibathukum yaitu, apabila penentuan mahar berdasarkan pendidikan wanita dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan harkat martabat wanita, maka sah atau halal mereka menerimanya, akan tetapi sebaliknya, apabila penentuan mahar atau jeulamei tersebut karena ingin membanggakan diri dan memberatkan pihak laki-laki atau calon suami sehingga menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan syariat hal ini menjadi tidak halal menerimanya, bahkan menjadi haram.

 

Diterbitkan
2018-07-02
Bagian
Articles